Jumat, 27 FEBRUARI 2026 • 16:25 WIB

Persiapan Indonesia Menghadapi Revolusi Kecerdasan Buatan

Author

Persiapan Indonesia Menghadapi Revolusi Kecerdasan Buatan

Presiden Joko Widodo memprediksi akan terjadi revolusi besar dalam kecerdasan buatan (AI) dalam waktu 5 hingga 15 tahun mendatang.

Baca juga: Penjarahan Rumah Eko Patrio: Polisi Selidiki Kericuhan di Kuningan

Dia mendorong semua negara, termasuk Indonesia, untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan ini dengan serius.

Transformasi Ekonomi Menuju AI

Jokowi menjelaskan bahwa revolusi AI akan mengubah berbagai aspek kehidupan secara signifikan. Ia menyatakan, "Menurut perkiraan saya 5 sampai 15 tahun yang akan datang akan ada revolusi besar, artificial intelligence."

Ketertarikan Presiden terhadap kecerdasan buatan menunjukkan upayanya untuk menghadapi perubahan dari ekonomi tradisional menuju ekonomi berbasis digital dan AI.

Dalam pemaparannya, Jokowi menyebutkan bahwa kesiapan sangat penting mengingat adanya pergeseran menuju ekonomi yang lebih cerdas, "Memang harus siap betul, karena ini akan ada sebuah pergeseran dari yang dulunya ekonomi normal masuk ke digital ekonomi ini, masuk ke ekonomi AI atau intelligence ekonomi."

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Era Modern: Tips untuk Generasi Muda

Kedaulatan Data dan Infrastruktur Digital

Lebih lanjut, Jokowi menyoroti pentingnya kedaulatan data, terutama bagi negara berkembang. "Kedaulatan data itu mutlak dan sangat perlu bagi semua negara, utamanya negara-negara berkembang," ungkapnya.

Presiden juga menekankan perlunya pembangunan infrastruktur digital yang terdiri dari satelit, pusat data, jaringan fiber optik, dan menara BTS.

Ia menjelaskan, "Baik itu satelit, baik itu center baik itu fiber optik, baik itu menara BTS yang semuanya akan memberikan dukungan kepada nanti kalau era AI ini betul-betul akan kejadian."

Tantangan Kedaulatan AI di Tingkat Global

Jokowi menyadari tantangan dalam mencapai kedaulatan AI, bahkan bagi negara maju. Ia menyatakan, "Negara besar saja saya kira kan sulit. Amerika mau kedaulatan seperti apa? Wong chip semikonduktor masih impor dari negara lain."

Ia juga menekankan bahwa penyediaan sumber daya dan bakat internasional dalam kecerdasan buatan masih banyak bergantung pada negara lain, seperti India.

Dalam setiap kesempatan, Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan komitmen mereka pada isu kecerdasan buatan dalam agenda pembangunan. Gibran berharap pesantren bisa menjadi pelopor dalam penggunaan teknologi AI dan blockchain.

Baca juga: Sepatu Putih: Aksesori Fashion Tak Lekang Oleh Waktu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU