Dominasi Israel dalam Pengembangan Talenta Kecerdasan Buatan Global
Israel telah diakui sebagai negara dengan konsentrasi tertinggi talenta kecerdasan buatan (AI) di dunia, menurut laporan LinkedIn terbaru.
Baca juga: Menemukan Cinta Diri: Pentingnya Self Love dalam Kehidupan
Negara ini bahkan berhasil mengalahkan raksasa teknologi seperti Amerika Serikat dan China yang tidak masuk dalam daftar sepuluh teratas.
Kecerdasan buatan kini menjadi pilar utama pengembangan teknologi modern. Talenta yang memiliki keahlian dalam bidang ini berperan sangat signifikan dalam memfasilitasi inovasi.
Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh LinkedIn menunjukkan bahwa 66% pemimpin perusahaan kini menghindari merekrut karyawan yang tidak memiliki keterampilan AI. Ini menunjukkan betapa pentingnya keterampilan ini dalam mempengaruhi keputusan sumber daya manusia di berbagai level industri.
Baca juga: Patung Superhero Anggota DPR RI Dirusak, Ahmad Sahroni Cerita di Balik Koleksinya
Laporan yang menunjukkan distribusi talenta AI ini menggunakan data dari profil pengguna LinkedIn untuk mengukur konsentrasi keterampilan AI di 31 negara. Metodologi ini mencakup beberapa alat dan teknik, seperti machine learning dan natural language processing.
Dalam laporan ini, literasi AI juga menjadi parameter penting, termasuk penggunaan teknologi mutakhir seperti ChatGPT dan GitHub Copilot. Meski populasi Israel lebih kecil dibandingkan negara besar lain, hasil menunjukkan ekosistem lokal mampu mendorong perkembangan talenta AI secara signifikan.
Berdasarkan informasi yang diungkap oleh LinkedIn, Singapura menempati urutan kedua dalam konsentrasi talenta AI dengan 1,64%, diikuti oleh Luksemburg di posisi ketiga dengan angka 1,44%. Hal ini diungkap oleh Chua Pei Ying, Kepala Ekonom LinkedIn wilayah APAC.
'Banyak negara kecil seperti Israel, Singapura, dan Luksemburg memiliki kultur pembelajaran yang kuat, yang mendukung pertumbuhan talenta AI,' tambah Chua. Ironisnya, baik China maupun AS tidak ada dalam daftar sepuluh teratas, yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan penyensoran yang ketat di China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: