Lonjakan Harga RAM di Indonesia: Apa Yang Terjadi dan Mengapa?
Kenaikan harga RAM di Indonesia belakangan ini mencapai puncaknya, menyebabkan pengguna kesulitan dalam mencari perangkat keras yang terjangkau. Dalam waktu satu bulan, harga RAM melonjak hingga empat kali lipat, mengubah lanskap pasar teknologi di Tanah Air.
Baca juga: Merevolusi Perawatan Keguguran dengan Kecerdasan Buatan
Pemantauan di berbagai toko komputer menunjukkan harga DDR 4 dan DDR 5 mengalami peningkatan yang mencolok. Hal ini memaksa konsumen untuk merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan komponen yang sangat dibutuhkan.
Situasi di ITC Kuningan, Jakarta, mencerminkan kenaikan dramatis harga RAM yang berlangsung sejak akhir tahun lalu. Salah satu penjual, Hasan, menjelaskan, "Seminggu tuh bisa 3-4 kali naik. Nah udah terus naik. Sebulan naik Rp 400 ribu, Rp 600 ribu, akhirnya jadi 100% bisa Rp 1 jutaan."
Saat ini, harga DDR 5 RAM 32GB berada di kisaran Rp 7-8 juta, sementara RAM 16GB kini dijual lebih dari Rp 2 juta setelah sebelumnya hanya sekitar Rp 1 juta. Hasan menambahkan, bahwa pengguna tidak memiliki banyak pilihan karena aktivitas menggunakan perangkat harus tetap berlangsung.
Penjual lain, Nasrun, mencatat, meski harga terus melambung, permintaan tidak berkurang signifikan. "Kalau turun sih enggak, mau enggak mau lah," ucapnya, menunjukkan bahwa konsumen harus beradaptasi dengan harga baru ini.
Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Usai Kerusuhan di Rumah Ahmad Sahroni
Berdasarkan laporan dari firma riset IDC, kesenjangan antara permintaan dan pasokan RAM diperkirakan akan semakin parah hingga semester pertama 2026. Vanessa, perwakilan dari IDC, mengungkapkan, "Kondisi ini diperkirakan mulai mereda pada semester II, tetapi harga akan tetap tinggi setidaknya sampai awal 2027."
Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan pembangunan pusat data AI dan pergeseran prioritas produsen chip menuju segmen hyperscale. Hal ini mengakibatkan pengurangan produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen.
Vanessa juga menyebutkan, "Secara khusus, pasokan/manufaktur memori kelas bawah seperti DDR4, yang banyak digunakan pada smartphone entry-level, terus dikurangi." Ini menunjukkan dampak berkelanjutan pada semua segmen pasar terkait.
Kenaikan harga RAM diperkirakan akan berimbas pada pasar perangkat bekas, terutama smartphone. Permintaan yang tinggi di pasar resmi dapat mendorong harga di pasar sekunder meningkat, menciptakan tantangan baru bagi konsumen.
Dampak di sektor PC dan komponen lainnya juga diperkirakan akan terasa, di tengah kepadatan pasar perangkat bekas. Pengamat pasar mencatat, "Kadang ada, kadang enggak (stoknya). Naik harganya suka berubah-ubah," mengindikasikan fluktuasi harga yang tidak terduga.
Dengan meningkatnya permintaan dari sektor smartphone, PC, dan otomotif, kebutuhan untuk komponen memori dan penyimpanan tetap tinggi. Ini menunjukkan bahwa situasi akan bertahan lebih lama dan dapat mempengaruhi keputusan pembelian di industri secara keseluruhan.
Baca juga: Pentingnya Olahraga untuk Kesehatan Jantung
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: