Selasa, 10 MARET 2026 • 13:21 WIB

Serangan Siber oleh Kelompok Peretas Iran: Ancaman terhadap Keamanan AS

Author

Serangan Siber oleh Kelompok Peretas Iran: Ancaman terhadap Keamanan AS

Kelompok peretas Iran yang dikenal sebagai MuddyWater berhasil menyusup ke dalam jaringan berbagai organisasi di Amerika Serikat, termasuk bank dan bandara. Ini memicu kekhawatiran serius terkait potensi serangan siber lebih lanjut.

Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Dampak Viral Video Joget Anggota DPR RI

Menurut hasil penelitian terbaru, kelompok ini sudah berada dalam sistem sejak awal Februari 2026, dengan aktivitas yang semakin meningkat setelah serangan militer oleh AS dan Israel.

Penetrasi Jaringan Oleh Kelompok MuddyWater

MuddyWater diyakini memiliki koneksi erat dengan Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS), yang terkenal dengan berbagai operasi siber di seluruh dunia. Peningkatan aktivitas peretasan ini terpantau dalam konteks ketegangan militer antara AS, Israel, dan Iran.

Laporan dari The Register mengungkapkan bahwa operasi mereka berpotensi membuka celah bagi serangan yang lebih besar. Banyak ahli keamanan kini memperingatkan mengenai eksploitasi yang mungkin terjadi jika jaringan ini tidak segera diperkuat.

Baca juga: Aksi Pria Berkostum Ojol di Atas Kereta KRL Cikini Viral di Media Sosial

Penemuan Malware dan Teknik Peretasan

Menurut tim peneliti dari Symantec dan Carbon Black, telah ditemukan malware baru yang dikenal sebagai 'Dindoor'. Malware ini memberikan akses penuh kepada hacker untuk mengendalikan sistem dari jarak jauh.

Malware tersebut tidak hanya terdeteksi pada sistem bank di AS, tetapi juga ditemukan pada jaringan perusahaan teknologi yang beroperasi di Israel serta organisasi nirlaba di Kanada. Ini menunjukkan jangkauan yang luas dari operasi MuddyWater.

'Fakeset' adalah backdoor lain yang ditemukan, terdeteksi di jaringan bandara dan lembaga non-profit di AS, menambah daftar ancaman yang dihadapi oleh sektor penting tersebut.

Ancaman Terhadap Keamanan Data dan Spionase Digital

Ada indikasi pencurian data dari perusahaan perangkat lunak yang terlibat dalam sektor pertahanan dan kedirgantaraan, sebuah tindakan yang berpotensi membahayakan keamanan nasional. Data tersebut berusaha dipindahkan ke cloud eksternal, meski belum ada konfirmasi mengenai keberhasilannya.

Dalam beberapa hari terakhir, terdapat peningkatan aktivitas spionase digital di kawasan Timur Tengah. Para peneliti mencatat bahwa institusi dan bisnis di kawasan tersebut harus lebih waspada terhadap ancaman yang ada.

Baca juga: Patung Superhero Anggota DPR RI Dirusak, Ahmad Sahroni Cerita di Balik Koleksinya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU