Kementerian Komunikasi Digital (Komdigi) sedang menyusun peta jalan untuk kecerdasan buatan (AI) sebagai pedoman strategis dalam digitalisasi di Indonesia. Rencana ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi ekonomi dan sosial dari teknologi AI.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan untuk Pengguna Apple
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, mengungkapkan bahwa saat ini penggunaan AI di Indonesia masih didominasi oleh sektor hiburan, meski 80% masyarakat optimis terhadap teknologi ini.
Optimisme dan Tantangan Penggunaan AI di Indonesia
Penggunaan teknologi AI di Indonesia, meskipun semakin populer, lebih terfokus pada sektor hiburan daripada produktivitas. Riset dari Stanford menunjukkan bahwa 80% masyarakat Indonesia memiliki pandangan positif terhadap keberadaan dan dampak AI di masa depan.
Potensi ekonomi yang dapat ditawarkan oleh AI cukup signifikan. Diperkirakan, pada tahun 2030, AI akan menciptakan nilai ekonomi mencapai US$ 366 miliar untuk Indonesia, mendorong banyak negara lain untuk berinvestasi dalam teknologi ini.
Edwin menekankan bahwa adopsi AI harus diiringi dengan integrasi strategis agar Indonesia siap memasuki era digital yang baru.
Baca juga: Patung Superhero Anggota DPR RI Dirusak, Ahmad Sahroni Cerita di Balik Koleksinya
Peta Jalan dan Kebijakan AI untuk Masa Depan
Pemerintah melalui Komdigi telah memulai penyusunan Peta Jalan AI 2025 untuk membantu transisi menuju era digital berbasis AI yang lebih efektif. Fokus utama adalah menciptakan kebijakan yang memungkinkan pemanfaatan AI secara maksimal.
Sedang dirancang dua Peraturan Presiden (Perpres) untuk mengatur pemanfaatan AI di Indonesia. Perpres ini bertujuan memastikan bahwa keberadaan AI memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan.
Edwin mengungkapkan, 'Dua perpres yang kita sedang rancang adalah untuk mengarahkan AI ini lebih beneficial untuk Indonesia.' Harapannya adalah kebijakan ini dapat menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan meningkatkan produktivitas nasional.
Memitigasi Risiko dan Mendorong Manfaat AI
Edwin menjelaskan pentingnya peran pemerintah dalam memitigasi risiko yang muncul dari penggunaan AI. Meskipun perkembangan AI tidak bisa dicegah, masyarakat harus dapat mengambil manfaat dari teknologi ini sembari menjaga aspek negatifnya.
Ia menegaskan, 'Kita tidak bisa cegah AI, tapi kita bisa manfaatkannya, dan bisa menjaganya.' Kebijakan yang tepat diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan AI di berbagai sektor dan mengurangi potensi dampak negatif.
Dengan adanya kebijakan dan peta jalan yang jelas, diharapkan Indonesia dapat bersaing di kancah global dalam pemanfaatan AI, serta menciptakan peluang baru untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: