Inovasi AI Menuju Kecerdasan Umum: Apa yang Harus Diketahui?
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin menarik perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir. Inovasi terbaru di dunia AI, yakni artificial general intelligence (AGI), diharapkan akan segera terwujud.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih
Sam Altman, CEO OpenAI, menyampaikan pandangannya mengenai AGI, yang akan memiliki kecerdasan serupa manusia dan mampu beradaptasi pada berbagai situasi. Prediksi ini mengindikasikan bahwa masyarakat perlu siap menghadapi perubahan yang berkaitan dengan teknologi.
Artificial General Intelligence (AGI) mengacu pada kapasitas AI yang dapat bersaing dengan kecerdasan manusia. Dengan adanya AGI, kebutuhan pelatihan yang konstan pada AI akan berkurang, karena kemampuan untuk beradaptasi akan hadir secara alami.
Sam Altman berpendapat bahwa kecerdasan super (ASI), yang jauh melampaui kemampuan manusia, juga akan tersedia dalam waktu dekat. ASI diharapkan mampu memberikan solusi yang lebih efektif untuk berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.
Kemunculan AGI dan ASI dianggap akan membawa dampak positif bagi berbagai sektor, seperti kesehatan dan pendidikan, dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas.
Baca juga: Sri Mulyani: Cinta Indonesia Meski Menghadapi Penjarahan
Dalam diskusi tentang AI, Altman fokus pada isu konsumsi sumber daya, terutama air yang digunakan dalam pusat data. Meskipun ada rumor tentang konsumsi air yang berlebihan, ia menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar.
"Anda melihat hal-hal ini di internet yang mengatakan 'jangan gunakan ChatGPT, menghabiskan 17 galon air untuk tiap kueri' atau apapun. Ini sama sekali tidak benar," ungkap Altman.
Namun, menurutnya, kekhawatiran akan konsumsi energi adalah hal yang lebih substansial. Ia menyarankan peralihan ke sumber energi terbarukan, seperti energi nuklir atau tenaga matahari, untuk mendukung pertumbuhan teknologi yang berkelanjutan.
Salah satu gagasan menarik yang muncul adalah tentang pusat data yang beroperasi di luar angkasa. Altman berkomentar bahwa ide ini tidak praktis di era sekarang.
"Pusat data orbital tidak akan relevan dalam skala besar dekade ini, karena perhitungan kasar biaya peluncuran dan sulitnya memperbaiki GPU yang rusak di antariksa," jelasnya.
Pernyataan ini menunjukkan berbagai tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan infrastruktur AI, serta perlunya solusi yang lebih realistis dan aplikatif.
Baca juga: Berbagai Makanan Sehari-hari Ternyata Mengandung Gula Tersembunyi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: