Penelitian Baru Ungkap Potensi Otak Buatan dalam Pembelajaran
Sekelompok ilmuwan berhasil mengembangkan gumpalan kecil jaringan otak buatan yang mampu menyelesaikan tugas sederhana melalui sinyal listrik. Temuan ini menawarkan wawasan baru tentang bagaimana penyakit saraf dapat memengaruhi kemampuan otak dalam belajar.
Baca juga: Kunto Aji Bicara Tanggung Jawab Anggota Dewan di DPR
Dengan menggunakan sel punca tikus, mini otak ini berfungsi untuk menggali lebih dalam mekanisme belajar, membuka jalan bagi pemahaman yang lebih baik mengenai gangguan saraf.
Mini otak yang digunakan dalam penelitian ini dibangun dari sel punca tikus yang ditumbuhkan menjadi jaringan otak kecil. Meskipun tidak sekompleks otak manusia, mini otak ini memiliki kemampuan untuk mengirim dan menerima sinyal listrik.
Sel punca, yang merupakan sel induk dengan kemampuan berkembang biak, memungkinkan pengembangan mini otak ini. Dengan melakukan koneksi yang dapat berubah sebagai respons terhadap rangsangan luar, mini otak ini bisa digunakan untuk eksperimen lebih lanjut.
Baca juga: Peluncuran Denza D9: MPV Mewah dengan Penawaran Harga Menarik
Pada penelitian ini, sinyal listrik digunakan untuk mengindikasikan kemiringan tiang virtual yang harus dijaga oleh mini otak. Dalam proses ini, respons dari mini otak diubah menjadi perintah untuk menggerakkan kereta virtual ke arah yang tepat.
"Kami mencoba memahami dasar-dasar bagaimana neuron dapat disesuaikan secara adaptif untuk memecahkan masalah," kata Ash Robbins, Peneliti Robotika dan Kecerdasan Buatan dari University of California Santa Cruz. Penelitian yang berjudul Goal-Directed Learning in Cortical Organoids ini melibatkan pembagian mini otak ke dalam tiga kelompok eksperimen.
Hasil penelitian menunjukkan mini otak tanpa umpan balik hanya mencapai kinerja 2,3 persen, sedangkan umpan balik acak berhasil mencapai 4,4 persen. Namun, ketika diberi umpan balik adaptif, mini otak ini mencapai hasil yang signifikan yaitu 46 persen.
"Ketika kami bisa secara aktif memilih rangsangan pelatihan, kami bisa membentuk jaringan untuk memecahkan masalah," ucap Robbins. Meski menjanjikan, penelitian ini memiliki keterbatasan, di mana mini otak yang dilatih dapat segera 'lupa' dalam waktu 45 menit jika tidak digunakan.
Baca juga: Pentingnya Rutin Minum Obat Cacing untuk Kesehatan Masyarakat Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: