Di era digital saat ini, banyak individu merasakan ketakutan yang mendalam akan dilupakan daripada dibenci. Kecemasan ini sering kali muncul dari kebutuhan akan pengakuan di tengah derasnya arus informasi dan interaksi sosial.
Baca juga: Kunto Aji Bicara Tanggung Jawab Anggota Dewan di DPR
Media sosial berperan signifikan dalam fenomena ini, di mana jumlah 'like', komentar, dan follower menjadi tolok ukur eksistensi seseorang. Hal ini menandakan betapa besar dampak platform digital terhadap nilai diri individu.
Media Sosial dan Kebutuhan Akan Pengakuan
Penggunaan media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari, dengan platform seperti Instagram, Facebook, dan Twitter menciptakan budaya di mana individu berusaha mendapatkan perhatian. Usaha tersebut menciptakan semacam ekosistem di mana penerimaan sosial menjadi hal yang penting.
Banyak individu merasa bahwa kontribusi mereka di dunia digital merupakan refleksi dari nilai diri mereka. Akibatnya, semakin banyak pengguna yang aktif, tekanan untuk tampil menarik dan relevan juga semakin meningkat.
Peneliti telah menemukan bahwa afirmasi dalam bentuk 'like' dapat berpengaruh signifikan terhadap suasana hati penggunanya. Hal ini menciptakan hubungan simbiotik, yaitu kebutuhan akan validasi dari orang lain yang, jika tidak terpenuhi, dapat membuat individu merasa diabaikan.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Rekor Transfer Termahal
Efek Psikologis dari Dilupakan
Ketakutan akan dilupakan sering kali berakar dari hasrat untuk diterima di lingkup sosial. Ketika seseorang merasa dianggap sebelah mata, gejala kecemasan dan bahkan depresi bisa muncul.
Orang-orang di era ini cenderung mengaitkan pengalaman hidup mereka dengan interaksi digital. Ada anggapan bahwa tanpa jejak digital, keberadaan mereka menjadi tidak berarti.
Fenomena 'FOMO' atau Fear of Missing Out juga menjadi faktor berpengaruh, di mana individu merasa khawatir akan terasing dari cerita-cerita yang dibagikan oleh teman-teman mereka.
Dampak Positif dan Negatif dari Ketakutan Ini
Di satu sisi, ketakutan akan dilupakan dapat memotivasi individu untuk lebih aktif dalam bersosialisasi dan memberi kontribusi. Upaya untuk menciptakan konten yang relevan dapat memperkuat jaringan sosial dan hubungan antarindividu.
Namun, ada adanya risiko terjebak dalam siklus perbandingan sosial. Ketika seseorang lebih fokus mengejar pengakuan, perhatian mereka terhadap hal-hal yang lebih penting bisa jadi berkurang.
Fenomena ini juga menciptakan tekanan untuk selalu tampil sempurna, yang berpotensi menyebabkan stres dan menurunkan rasa percaya diri ketika ekspektasi tidak tercapai.
Baca juga: Kekacauan di Duren Sawit: Uya Kuya Menjadi Korban Penjarahan Setelah Video Viral
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: