Scrolling di media sosial menjadi aktivitas sehari-hari yang sulit dihindari oleh banyak orang dalam era digital saat ini.
Baca juga: Menemukan Cinta Diri: Pentingnya Self Love dalam Kehidupan
Kemudahan akses informasi dan hiburan di ponsel dianggap sebagai penyebab utama ketidakmampuan untuk berhenti menggulirkan layar.
Daya Tarik Media Sosial
Media sosial dirancang dengan algoritma canggih yang menarik perhatian pengguna. Setiap konten yang muncul di beranda disesuaikan untuk memicu rasa ingin tahu dan keinginan untuk mencari lebih banyak.
Ketika pengguna menemukan konten yang disukai, otak melepaskan dopamin yang menciptakan rasa senang. Hal ini mendorong mereka untuk terus menggulir, berharap menemukan lebih banyak konten yang memuaskan.
Tidak mengherankan bila pengalaman scrolling terasa seperti 'permainan' yang mengasyikkan. Setiap guliran dapat memunculkan kisah atau gambar baru, yang tentu saja menarik untuk dilihat.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Pendingin Canggih
Faktor Psikologis
Ketertarikan terhadap konten digital sering berakar dari kebutuhan untuk menjalin koneksi sosial. Scrolling dapat menjadi jalan untuk merasa dekat dengan orang lain.
Namun, aktivitas ini dapat memicu perasaan campur aduk seperti kecemasan dan depresi. Hal ini umumnya terjadi saat pengguna membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih bahagia di platform tersebut.
Dr. David Lewis, seorang psikolog, mengungkapkan, 'Kita seringkali tidak menyadari seberapa banyak kita tergantung pada media sosial untuk mendapatkan validasi.' Pernyataan ini mendemonstrasikan seberapa dalam pengaruh media sosial terhadap perilaku scrolling.
Dampak Sosial
Tekanan sosial juga ikut mempengaruhi perilaku scrolling tanpa henti. Melihat teman atau orang lain membagikan momen bisa memicu dorongan untuk tetap terhubung.
'FOMO' atau Fear of Missing Out telah menjadi istilah yang umum di kalangan pengguna media sosial, yang menyebabkan rasa khawatir tertinggal dari tren atau berita terbaru.
Dengan berjalannya waktu, ketergantungan terhadap media sosial dapat menyebabkan penurunan interaksi di dunia nyata. Banyak individu lebih memilih menghabiskan waktu online ketimbang bertemu secara langsung.
Baca juga: Olahraga Low Impact: Solusi Ideal bagi Pemula untuk Memulai Kebiasaan Sehat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: