Rabu, 28 JANUARI 2026 • 21:45 WIB

Menelusuri Dampak FOMO dalam Era Digital dan Kesehatan Mental

Author

Menelusuri Dampak FOMO dalam Era Digital dan Kesehatan Mental

Di tengah perkembangan teknologi informasi, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi perhatian penting, khususnya di kalangan pengguna media sosial. Rasa cemas ini sering kali disebabkan oleh ketakutan akan kehilangan momen berharga yang terlihat dalam tayangan orang lain.

Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial Masyarakat

FOMO berpotensi menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mental individu. Hal ini menuntut pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana perasaan ini berkembang dan cara-cara untuk mengatasinya.

Memahami FOMO

FOMO adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan cemas ketika seseorang merasa ketinggalan momen berharga yang dialami orang lain. Dengan hadirnya media sosial, perasaan ini semakin umum, mengingat banyak orang berusaha menunjukkan kehidupan yang aktif dan bahagia di platform tersebut.

Perasaan FOMO dapat muncul dari berbagai sumber, seperti melihat postingan teman di Instagram atau mendapati ajakan acara yang tidak dapat dihadiri. Hal ini mendorong individu untuk berusaha mengejar setiap kesempatan meskipun tidak selalu menyenangkan bagi mereka.

Baca juga: Penjarahan Rumah Eko Patrio: Polisi Selidiki Kericuhan di Kuningan

Dampak Negatif FOMO

Dampak dari FOMO dapat berupa kecemasan yang berlebihan dan penurunan rasa percaya diri. Seseorang yang terus-menerus membandingkan kehidupannya dengan orang lain cenderung merasa tidak puas, meskipun tidak terdapat standar objektif untuk menilai kepuasan hidup.

Di samping itu, banyak individu merasa tertekan untuk selalu aktif di media sosial, yang dapat menyebabkan mereka mengabaikan waktu untuk diri sendiri. Ketika interaksi digital lebih diutamakan daripada interaksi nyata, kesehatan mental individu dapat terancam.

Strategi Mengatasi FOMO

Salah satu langkah yang dapat diambil untuk mengatasi FOMO adalah dengan membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial. Dengan mengurangi paparan terhadap kehidupan orang lain, individu diharapkan dapat lebih fokus pada kebahagiaan dan kepuasan diri.

Lebih lanjut, penting untuk diingat bahwa tidak ada hidup yang sempurna. Setiap individu memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, dan membandingkan diri sendiri dengan orang lain hanya akan menambah beban mental yang tidak perlu.

Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word dan Aplikasi Lain

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU