BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 22:28 WIB

Kepastian Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Bukan Sinkhole

Kepastian Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Bukan SinkholeKepastian Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Bukan Sinkhole

Fenomena lubang raksasa yang muncul di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, ternyata disebabkan oleh longsoran tanah dan bukan oleh sinkhole. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa luas lubang ini mencapai 27 ribu meter persegi.

Baca juga: Penjarahan Rumah Eko Patrio: Polisi Selidiki Kericuhan di Kuningan

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa lapisan tanah di daerah tersebut rentan runtuh akibat komposisinya, yang mengandung material tufa.

Geologi di Balik Fenomena Lubang Raksasa

Lubang yang terbentuk di Aceh Tengah muncul di kawasan yang tidak terdiri dari batu gamping, yang umumnya menyebabkan sinkhole. Sebaliknya, wilayah Ketol didominasi oleh material tufa yang dihasilkan dari aktivitas Gunung Geurendong, yang tidak lagi aktif.

Adrin Tohari menyatakan, "Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh." Penelitian awal BRIN menunjukkan bahwa pola erosi dan longsor telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Melalui citra satelit Google Earth sejak 2010, terlihat adanya lembah kecil yang melebar akibat proses erosi. Proses ini dapat semakin membesar jika diintervensi oleh curah hujan yang lebat, meningkatkan potensi terbentuknya lubang yang lebih besar.

Baca juga: Menciptakan Suasana Cozy di Kamar Kecil

Penyebab Meluasnya Lubang

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap ketidakstabilan struktur lereng adalah gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo yang terjadi di tahun 2013. Adrin menjelaskan, "Gempa bumi itu diperkirakan memperlemah struktur lereng dan memicu ketidakstabilan yang semakin besar."

Selain gempa, hujan lebat merupakan faktor utama yang menyebabkan kondisi tanah semakin buruk. "Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh air, sehingga lapisan tanah kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh," lanjutnya.

Keberadaan saluran irigasi terbuka dari perkebunan juga berperan dalam meningkatkan kelembaban tanah, yang mempercepat proses keruntuhan. Kelembaban yang tinggi membuat tanah sangat rentan terhadap erosi.

Rencana Mitigasi dan Penelitian Selanjutnya

BRIN kini tengah melakukan analisis lebih lanjut menggunakan citra satelit dan data publik untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena ini. Adrin menggarisbawahi pentingnya penelitian mendalam untuk mengetahui penyebab dan dampak lebih lanjut.

"Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif," jelas Adrin.

Dianjurkan juga agar peta kerentanan gerakan tanah diperbaharui pasca kejadian ini. "Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari," tambahnya.

Baca juga: Patung Superhero Anggota DPR RI Dirusak, Ahmad Sahroni Cerita di Balik Koleksinya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Kepastian Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Bukan Sinkhole

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!