Tragedi Siswa SD di NTT: Gubernur Akui Kegagalan Penanganan Sosial
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, merasakan penyesalan mendalam setelah insiden tragis yang melibatkan siswa SD berinisial YBS berusia 10 tahun yang mengakhiri hidupnya. Kejadian ini dipicu oleh kekecewaan karena ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan alat tulis sekolah.
Baca juga: Kementerian Perindustrian Ungkap Status Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Dalam keterangan resmi, Melki menekankan bahwa pemerintah lokal gagal menjalankan tanggung jawab kepada masyarakat. Insiden ini menjadi sinyal peringatan untuk pemerintah agar lebih serius menanggapi masalah sosial di daerah.
Melki Laka Lena menyatakan bahwa insiden ini mencerminkan kegagalan berbagai sistem sosial. 'Ini kan kita tidak tahu apa yang salah, tapi pranata sosial kita berarti gagal urus model beginian,' ujarnya saat acara peresmian Fakultas Kedokteran di Kupang.
Ia menekankan pentingnya evaluasi mendalam terhadap kesalahan yang terjadi dalam penanganan masalah ini. 'Saya minta kita semua hadir di tempat ini, para pejabat-pejabat daerah, termasuk diri saya sendiri kayak gini cukup terakhir sudah,' imbuhnya.
Kepastian transparansi dalam proses penanganan isu sosial menjadi sorotan utama Melki. Ia mengatakan bahwa semua pihak harus siap bertanggung jawab jika ditemukan kesalahan yang teridentifikasi.
Baca juga: Menciptakan Suasana Cozy di Kamar Kecil
Kasus ini melibatkan YBS, siswa kelas IV SD, yang mengalami krisis dukungan finansial untuk membeli alat tulis. YBS meminta bantuan senilai Rp10.000 kepada ibunya, namun tidak mendapatkan tanggapan positif.
Ibu YBS yang bekerja sebagai petani menyatakan tidak memiliki uang untuk membantu anaknya. Hal ini menggarisbawahi kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh keluarga di kawasan tersebut.
Kehilangan nyawa seorang anak akibat tekanan finansial menggambarkan ketidakberdayaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar yang mengkhawatirkan.
Menanggapi insiden ini, Melki Laka Lena mengungkapkan rasa malunya bahwa kejadian tersebut terjadi di bawah kepemimpinannya. 'Malu saya sebagai gubernur model ini. Masa ada warga negara mati hanya karena model begini,' ungkap Melki.
Ia menegaskan pentingnya perbaikan dalam pengelolaan layanan publik agar tragedi serupa tidak terulang. Sumber daya yang ada tidak seharusnya mengarah pada kehilangan nyawa warganya yang kurang mampu.
Melki berkomitmen untuk menggali akar masalah dan siap menghadapi konsekuensi jika terbukti ada kesalahan dalam pengelolaan. 'Kalaupun saya salah, saya siap dituntut, kesalahan itu ada dimana, siap dia dituntut,' tegasnya.
Baca juga: Kekacauan di Duren Sawit: Uya Kuya Menjadi Korban Penjarahan Setelah Video Viral
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: