Rabu, 25 FEBRUARI 2026 • 11:51 WIB

Menyingkap Sejarah Konsumsi Babi di Timur Tengah dan Transformasi Budaya

Author

Menyingkap Sejarah Konsumsi Babi di Timur Tengah dan Transformasi Budaya

Babi sering kali dianggap sebagai hewan haram dalam agama Islam dan dilarang untuk dikonsumsi. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa ribuan tahun yang lalu, babi memiliki peranan penting dalam budaya masyarakat di Timur Tengah.

Baca juga: Kota-Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian

Sejarah Domestikasi Babi

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Kiel University, Jerman, menunjukkan bahwa babi pertama kali dijinakkan di kawasan Mesopotamia sekitar 8.500 SM. Hasil riset yang diterbitkan dalam tulisan berjudul 'Insights Into Early Pig Domestication Provided by Ancient DNA Analysis' menegaskan peranan penting babi sebagai sumber makanan di daerah tersebut.

Babi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Timur Tengah, dengan catatan arkeologis yang menunjukkan pemeliharaan hewan ini sebagai sumber protein sejak 5.000 hingga 2.000 SM. Hal ini menunjukkan bahwa babi pernah menjadi bagian integral dari budaya dan pola makan masyarakat di wilayah tersebut.

Baca juga: Penjarahan Rumah Eko Patrio: Polisi Selidiki Kericuhan di Kuningan

Ancaman Ekologi Terhadap Konsumsi Babi

Antropolog Marvin Harris dalam bukunya 'Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir' memberikan analisis menarik terkait larangan konsumsi babi. Ia mencatat bahwa satu ekor babi membutuhkan sekitar 6.000 liter air untuk berkembang, yang sangat berat bagi lingkungan di Timur Tengah yang sering kali mengalami kekeringan.

Harris berpendapat bahwa kebutuhan sumber daya yang tinggi ini membuat masyarakat lebih memilih untuk mengalihkan air untuk kebutuhan lain, sehingga mengurangi pemeliharaan babi sebagai dampak dari kondisi lingkungan yang memprihatinkan.

Perubahan Budaya dengan Kemunculan Ayam

Sejarawan Richard W. Redding mencatat bahwa kemunculan ayam di kawasan tersebut juga berpengaruh terhadap berkurangnya popularitas babi di kalangan masyarakat Arab. Ayam dianggap lebih praktis dalam hal konsumsi sumber daya, dengan kebutuhan air yang lebih rendah dibandingkan babi.

Setiap kilogram daging ayam hanya memerlukan sekitar 3.500 liter air, dan di samping itu, ayam juga menghasilkan telur yang menjadi sumber protein tambahan bagi keluarga. Hal ini menyebabkan preferensi masyarakat beralih dari babi ke ayam.

Baca juga: Menggali Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU