Monumen raksasa Yonaguni terletak di dasar laut Jepang dan ditemukan pada tahun 1986 oleh penyelam Kihachiro Aratake. Struktur ini sampai saat ini memicu banyak spekulasi tentang asal-usulnya yang unik.
Baca juga: Kementerian Perindustrian Ungkap Status Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Terletak sekitar 25 meter di bawah permukaan, monumen ini menampilkan formasi batuan berbentuk persegi panjang yang menyerupai tangga, menarik perhatian ilmuwan serta peneliti dari berbagai latar belakang.
Penemuan yang Tak Terduga
Kihachiro Aratake, seorang penyelam dan direktur asosiasi pariwisata lokal, secara tidak sengaja menemukan Monumen Yonaguni saat mencari lokasi penyelaman. "Sekitar 35 tahun yang lalu, saat saya sedang mencari titik penyelaman, saya menemukannya secara kebetulan," ungkap Aratake dalam wawancara dengan BBC pada tahun 2022.
Setelah penemuan tersebut, Aratake merasakan sebuah momen emosional dan menyadari pentingnya temuan itu bagi Pulau Yonaguni. "Saya sangat emosional ketika menemukannya. Setelah menemukannya, saya menyadari bahwa ini akan menjadi harta karun Pulau Yonaguni," tambahnya.
Baca juga: Peluncuran Smartphone Terbaru Realme dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone
Hipotesis Asal Usul
Tak lama setelah penemuan, Aratake berkolaborasi dengan para ilmuwan di Universitas Ryūkyūs untuk menyelidiki lebih lanjut. Masaaki Kimura, seorang ahli biologi kelautan, berpendapat bahwa Monumen Yonaguni mungkin merupakan bagian dari benua Mu yang hilang, sebuah teori yang merujuk pada benua hipotetis Lemuria.
Sebagian peneliti juga beranggapan bahwa struktur ini mungkin diciptakan antara 10.000 hingga 14.000 tahun lalu, yang menjadikannya lebih tua dari banyak peradaban yang tercatat. Teori ini sering dikaitkan dengan legenda Atlantis, menambah kedalaman narasi seputar monumen tersebut.
Pandangan Para Ahli
Sementara banyak spekulasi beredar, beberapa ahli geologi memberikan penilaian skeptis terhadap asumsi bahwa struktur tersebut buatan manusia. Robert Schoch, profesor di Boston University yang telah menyelami lokasi ini, menyatakan keraguannya.
"Saya tidak yakin bahwa salah satu fitur atau struktur utama adalah tangga atau teras buatan manusia, tetapi semuanya alami," kata Schoch. Ia menjelaskan bahwa monumen itu kemungkinan hasil dari proses geologi dan geomorfologi alami yang klasik.
"Di permukaan, saya juga menemukan cekungan dan rongga yang terbentuk secara alami yang tampak persis seperti 'lubang tiang' yang diduga oleh beberapa peneliti," tambah Schoch, menegaskan bahwa struktur ini mungkin adalah produk alam.
Baca juga: Olahraga Low Impact: Solusi Ideal bagi Pemula untuk Memulai Kebiasaan Sehat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: