Puasa Ramadan bukan hanya berkaitan dengan aspek spiritualitas, tetapi juga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan jantung dan sistem pembuluh darah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ini berpotensi untuk memperbaiki kesehatan kardiovaskular dengan cara yang signifikan.
Baca juga: Aksi Pria Berkostum Ojol di Atas Kereta KRL Cikini Viral di Media Sosial
Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of the American Heart Association mengungkapkan hubungan antara puasa Ramadan dan penurunan tekanan darah. Temuan ini menunjukkan bahwa puasa bisa menjadi langkah positif bagi pengelolaan kesehatan jantung.
Pengaruh Puasa terhadap Tekanan Darah
Sebuah studi besar bernama London Ramadan Study (LORANS) menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada peserta puasa. Meta-analisis melibatkan 3.213 partisipan, baik yang sehat maupun yang mengidap hipertensi dan diabetes.
Penurunan tekanan darah ini membawa implikasi positif bahwa puasa Ramadan aman untuk kesehatan jantung. Penelitian ini juga tidak menemukan efek serupa pada individu dengan penyakit ginjal kronis.
"Studi ini menunjukkan puasa Ramadan memberikan efek menguntungkan terhadap tekanan darah, terlepas dari perubahan berat badan, total cairan tubuh, maupun massa lemak," tulis laporan penelitian tersebut.
Baca juga: Olahraga Low Impact: Solusi Ideal bagi Pemula untuk Memulai Kebiasaan Sehat
Keamanan Puasa untuk Pasien Jantung
Dr. Babar Basir dari Henry Ford Health di Detroit menjelaskan bahwa puasa umumnya dapat dianggap aman untuk pasien jantung. Ia menekankan pentingnya konsultasi medis sebelum memulai puasa, terutama bagi individu yang dalam pengobatan aktif.
"Secara historis, sudah terbukti berulang kali bahwa puasa sebenarnya sangat aman bagi kebanyakan orang," ungkap Dr. Babar, yang menekankan perlunya pendekatan cermat saat berpuasa.
Meskipun manfaat puasa cukup menjanjikan, setiap individu diharapkan untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan mereka masing-masing sebelum berpuasa.
Panduan Nutrisi Selama Ramadan
Ahli gizi Dr. Manal Elfakhani dari Penn State University menegaskan pentingnya sahur sebagai waktu untuk mempersiapkan cadangan energi. Ia merekomendasikan agar makanan sahur terdiri dari biji-bijian utuh, sayuran, dan sumber protein.
"Sahur adalah kesempatan terakhir untuk memberi asupan energi bagi tubuh sepanjang hari," ungkap Dr. Elfakhani, yang juga mengingatkan pentingnya kecukupan air.
Saat berbuka puasa, disarankan untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Ahli gizi mengingatkan untuk menghindari makanan yang terlalu banyak digoreng agar tidak menyebabkan masalah kesehatan yang lebih lanjut.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: