Minggu, 22 FEBRUARI 2026 • 20:50 WIB

Dampak Kesehatan Mental Akibat FOMO di Era Media Sosial

Author

Dampak Kesehatan Mental Akibat FOMO di Era Media Sosial

Fenomena FOMO, atau Fear of Missing Out, semakin mencuat dalam masyarakat yang semakin tergantung pada media sosial. Banyak individu merasakan tekanan emosional ketika melihat aktivitas orang lain yang terekam dalam platform digital.

Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word dan Aplikasi Lain

Dampak FOMO terhadap kesehatan mental sangat signifikan, menciptakan kecemasan dan ketidakpuasan berkelanjutan. Artikel ini akan mengupas tuntas pengaruh FOMO pada generasi muda di Indonesia.

Definisi dan Mekanisme Kerja FOMO

FOMO merujuk pada perasaan cemas yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman yang lebih menyenangkan yang tampak di media sosial. Istilah ini mulai populer sejak awal 2000-an dan semakin dikenal seiring dengan meningkatnya pengguna media sosial.

Perilaku yang mencirikan FOMO meliputi kebutuhan yang konstan untuk memeriksa media sosial, perasaan terasing, serta kegelisahan saat tidak berpartisipasi dalam aktivitas sosial.Tindakan ini dapat mempengaruhi penilaian individu terhadap diri sendiri dan kualitas hubungan interpersonal.

Menurut Dr. Andi Setiawan, seorang psikolog dari Jakarta, interaksi sosial di platform digital sering memperburuk perasaan cemas dan depresi. 'Media sosial dapat menjadi sumber utama stres bagi banyak pengguna,' ungkapnya.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital

Konsekuensi Negatif FOMO terhadap Kesehatan Mental

Salah satu konsekuensi paling signifikan dari FOMO adalah peningkatan tingkat kecemasan. Individu yang mengalami FOMO cenderung merasa kurang berharga dibandingkan mereka yang aktif bersosialisasi di media sosial.

FOMO juga berpotensi menyebabkan gangguan tidur, karena kecenderungan untuk terus menerus memeriksa ponsel. Kondisi ini berdampak negatif pada kesejahteraan fisik dan mental secara menyeluruh.

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan erat dengan risiko depresi. 'Kombinasi dari ekspektasi sosial yang tinggi dan tekanan dari lingkungan digital dapat sangat merusak,' tambah Dr. Siti Rahayu, seorang psikiater.

Langkah-Langkah untuk Mengatasi FOMO

Mengatasi FOMO memerlukan perhatian pada keseimbangan antara waktu yang dihabiskan di media sosial dan kegiatan di dunia nyata. Aktivitas sosial langsung seperti mengunjungi teman atau berolahraga dapat membantu meredakan kecemasan yang disebabkan oleh media sosial.

Para ahli merekomendasikan praktik detox digital, yakni mengurangi penggunaan media sosial dalam periode tertentu. Ini bertujuan untuk memberi ruang bagi individu menikmati pengalaman langsung tanpa tekanan dari platform digital.

Penggunaan media sosial yang bijak juga menjadi kunci. Salah satu pendekatan yang disarankan adalah memfilter konten yang dilihat dengan cara memahami bahwa tidak semua yang tampil menarik di media sosial mencerminkan kenyataan.

Baca juga: Tips Aman Berolahraga untuk Menghindari Cedera

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU