Jumat, 13 FEBRUARI 2026 • 17:36 WIB

Gempa Mematikan di Turki: Retakan 300 Kilometer Membelah Bumi

Author

Gempa Mematikan di Turki: Retakan 300 Kilometer Membelah Bumi

Turki mengalami gempa dengan kekuatan M 7,8 pada Februari 2023, yang menghasilkan retakan sepanjang 300 kilometer di permukaan bumi. Kejadian ini terjadi di perbatasan Turki dan Suriah, menyoroti dampak besar dari pergeseran lempeng tektonik.

Baca juga: Kementerian Perindustrian Ungkap Status Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Dampak dari gempa ini sangat merusak, dengan ribuan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang parah. Para ilmuwan mendalami penyebab dan konsekuensi dari fenomena geologis yang mengubah wajah kawasan ini.

Dampak Gempa dan Retakan Bumi

Gempa yang melanda Turki merupakan salah satu peristiwa seismik paling kuat yang tercatat dalam sejarah, terjadi dengan urutan waktu yang sangat berdekatan. Retakan yang dihasilkan menggambarkan pergerakan lempeng tektonik yang kuat, membuat banyak daerah di permukaan bumi terbelah.

Milan Lazecky dari COMET menyatakan, "Kami memperkirakan kemungkinan perpindahan horizontal jarang hingga 5 meter [16 kaki]." Temuan ini berasal dari analisis gambar satelit sebelum dan sesudah gempa, yang menunjukkan pergeseran signifikan.

Retakan pertama terdeteksi memanjang 300 kilometer dari timur laut Laut Mediterania. Fenomena ini memberikan gambaran jelas tentang besarnya energi yang dilepaskan, yang mengakibatkan gangguan pada struktur geologi.

Baca juga: Desta Dorong Tuntutan Rakyat kepada Prabowo di Tengah Kontroversi Pemilu

Analisis Ilmiah Terhadap Kejadian

Tim ilmuwan dari Pusat Pengamatan & Pemodelan Gempa Bumi, Gunung Berapi & Tektonik (COMET) di Inggris menjelaskan asal mula dari retakan besar tersebut. Profesor Tim Wright yang memimpin tim menyatakan, "Pecahan seperti itu biasanya muncul setelah gempa kuat," menekankan hubungan antara besar gempa dan retakan yang dihasilkan.

Retakan kedua muncul setelah gempa kedua sekitar sembilan jam setelah gempa pertama, dan membentang sepanjang 125 kilometer. Hal ini menjadi bukti bahwa daerah utara Siprus rentan terhadap aktivitas seismik tinggi.

Wright menambahkan, "Makin besar gempanya, makin besar patahannya dan makin tergelincir," menunjukkan bagaimana intensitas gempa berkorelasi langsung dengan besarnya kerusakan yang ditimbulkan.

Dampak Sosial dan Kemanusiaan

Lebih dari 20.000 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa, dengan banyak di antaranya masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Situasi ini diperburuk oleh proses penyelamatan yang lambat, terutama di Suriah yang sedang menghadapi konflik bersenjata.

Banyak satelit, baik yang dikelola pemerintah maupun perusahaan swasta, mengalami kerusakan. Ini menghambat upaya pemantauan dan mitigasi bencana lanjutan, memunculkan tantangan tambahan bagi tim penyelamat dan pemerintah.

Keadaan ini tidak hanya mencerminkan dampak seismik tetapi juga masalah kemanusiaan yang mendesak, menuntut respons cepat dari pemerintah dan organisasi internasional untuk memberikan bantuan kepada korban.

Baca juga: Sri Mulyani: Cinta Indonesia Meski Menghadapi Penjarahan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU