Masyarakat sering kali meremehkan nyeri dada yang dikenal dengan istilah 'angin duduk'. Namun, kondisi ini dapat menjadi indikasi awal serangan jantung yang memerlukan perhatian medis segera.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan untuk Pengguna Apple
Spesialis jantung menegaskan bahwa memahami gejala ini dengan benar sangat penting untuk mencegah komplikasi yang fatal.
Pengertian dan Persepsi Masyarakat
Di Indonesia, istilah 'masuk angin' atau 'angin duduk' sering digunakan untuk menggambarkan nyeri dada. Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Yislam Aljaidi, menjelaskan bahwa keluhan seperti sakit punggung, meriang, dan keringat dingin juga sering dianggap bagian dari gejala ini.
Namun, dr. Yislam menjelaskan bahwa gejala ini bisa menjadi tanda awal serangan jantung. Keluhan nyeri dada dapat menjalar ke bahu, leher, atau punggung, dan sering kali dianggap sebagai gejala biasa dalam masyarakat.
Ia menegaskan, "Karena keluhannya nyeri dada nggak nyaman, bisa menjalar ke bahu, bisa ke leher, ke punggung. Ditambah seolah-olah mirip gejala 'masuk angin'."
Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua Terhadap Psikologi Anak
Dampak Pemberian Penanganan yang Tidak Tepat
Kesalahan dalam menangani gejala serangan jantung bisa berakibat fatal. dr. Yislam menegaskan bahwa mengandalkan metode kerokan saat merasakan ketidaknyamanan bisa sangat berbahaya.
"Makanya dianggap kayak 'angin duduk' karena pada saat itu dia dikerokin saja. Sementara jantung itu butuh waktu yang critical, cepat dibawa ke rumah sakit," ujarnya.
Setiap menit yang terlewat tanpa penanganan yang tepat dapat meningkatkan risiko henti jantung, yang berpotensi menyebabkan kematian mendadak.
Kerokan: Mitos atau Realitas?
Banyak orang merasa nyaman setelah dikerok, tetapi hal ini tidak menyelesaikan masalah penyumbatan jantung. dr. Yislam menjelaskan bahwa rasa nyaman tersebut sebenarnya lebih merupakan sugesti.
"Kalau dikerok, pembuluh darah yang di dalam (jantung) tetap tersumbat. Kerokan itu cuma persepsi masing-masing orang dan sebenarnya sugesti saja," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kerokan bisa memicu peradangan kulit hingga infeksi, terutama jika alat yang digunakan tidak steril, sehingga tidak disarankan untuk mereka dengan gejala serangan jantung.
Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: