Penelitian terbaru dari NASA membongkar pandangan lama tentang asal air di Bumi. Kini, bukti menunjukkan bahwa sumber air mungkin berasal dari proses lain, bukan hanya dari meteorit.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan untuk Pengguna Apple
Studi yang menganalisis sampel Bulan yang sudah ada lebih dari setengah abad ini mengungkap bahwa kontribusi meteorit terhadap air di permukaan Bumi jauh lebih minimal dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya.
Teori Baru tentang Asal Usul Air di Bumi
Teori konvensional mengklaim bahwa air di Bumi terbentuk akibat tumbukan meteorit kaya air. Namun, hasil penelitian terbaru oleh NASA menunjukkan bahwa kontribusi meteorit jauh lebih kecil dari yang diperkirakan.
Analisis isotop oksigen dari regolit Bulan mengungkap bahwa sekitar satu persen dari material yang terdapat di Bulan berasal dari meteorit. Penemuan ini memunculkan pertanyaan baru tentang sumber lain yang mungkin telah berkontribusi pada keberadaan air di Bumi.
Salah satu tantangan dalam melacak jejak tabrakan kuno di Bumi adalah aktivitas geologis dan cuaca yang mengubah permukaan planet. Sebaliknya, Bulan yang minim aktivitas geologi menyediakan catatan yang lebih jelas mengenai sejarah benturan.
Baca juga: Fengshui Meja Kerja: Cara Sederhana Meningkatkan Produktivitas
Metodologi dan Temuan Penelitian
Dalam studi ini, tim peneliti NASA menggunakan analisis isotop oksigen presisi tinggi untuk mengevaluasi peran meteorit dalam keberadaan air Bumi. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun meteorit membawa air, jumlahnya tidak signifikan untuk menjelaskan total air yang ada.
Justin Simon, seorang ilmuwan planet di NASA Johnson Space Center, menjelaskan, "Hasil studi kami menunjukkan bahwa meskipun meteorit memang membawa air, jumlahnya tidak cukup untuk menjelaskan seluruh air yang ada di Bumi."
Menariknya, ketika memperhitungkan jumlah benturan yang terjadi, mayoritas air di Bumi kemungkinan berasal dari proses yang terjadi bahkan sebelum Bumi terbentuk atau dari interaksi kimia yang lebih awal yang belum sepenuhnya dipahami.
Peran Bulan sebagai Kapsul Waktu
Tony Gargano, peneliti utama dalam studi tersebut, menjelaskan bahwa Bulan berfungsi sebagai "kapsul waktu" yang krusial untuk memahami sejarah air di Bumi. Dia menyatakan, "Bulan memberi kita catatan benturan yang tidak bisa kita temukan lagi di Bumi."
Hal ini menegaskan pentingnya menjawab pertanyaan mendasar mengenai asal air yang mendukung kehidupan di Bumi. Lebih jauh, analisis ini memperkuat pandangan bahwa sebagian besar air di planet kita mungkin sudah ada sejak pembentukan awal Tata Surya.
Dengan demikian, walaupun meteorit memiliki peran tertentu, pemahaman kita tentang kontribusi mereka terhadap keberadaan air di Bumi perlu diperbaharui berdasarkan penelitian ini.
Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word dan Aplikasi Lain
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: