Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pengguna mulai mengurangi aktivitas mereka di sosial media dengan alasan yang beragam. Dari kesehatan mental hingga privasi yang menonjol, berbagai faktor mendorong masyarakat untuk berpikir ulang tentang kebiasaan online mereka.
Baca juga: Peluncuran Smartphone Terbaru Realme dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone
Dampak pada Kesehatan Mental
Salah satu alasan utama mengapa banyak orang mulai menjauhi sosial media adalah dampak negatifnya terhadap kesehatan mental. Banyak pengguna merasa terbebani oleh ekspektasi untuk selalu tampil sempurna di platform tersebut.
Studi menunjukkan bahwa penggunaan sosial media yang berlebihan dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan perasaan kesepian. Dalam pencarian kesejahteraan, semakin banyak yang memilih untuk mengurangi waktu online mereka.
Kenneth, seorang psikolog, menyatakan, "Interaksi di dunia maya sering kali berbeda dengan interaksi langsung. Rasa tidak puas dan perbandingan sosial bisa memperburuk kondisi mental seseorang."
Kekhawatiran Isu Privasi
Isu privasi menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan pengguna dalam menggunakan sosial media. Banyak dari mereka yang menyadari bahwa data pribadi sering disalahgunakan oleh perusahaan-perusahaan besar.
Baca juga: Sri Mulyani: Cinta Indonesia Meski Menghadapi Penjarahan
Kekhawatiran akan pengawasan data dan pencurian identitas semakin tinggi, sehingga membuat individu lebih berhati-hati dalam berbagi informasi. Hal ini berkontribusi pada rasa tidak nyaman dalam menggunakan berbagai platform sosial.
Rina, salah satu pengguna, mengungkapkan, "Saya merasa lebih aman dan tenang tanpa harus membagikan segala sesuatu secara online."
Kebutuhan untuk Koneksi yang Lebih Nyata
Kebutuhan untuk menjalin koneksi yang lebih nyata menjadi pendorong bagi banyak orang untuk beralih dari interaksi di dunia maya ke komunikasi langsung. Banyak pengguna merasa bahwa komunikasi melalui layar mengurangi kualitas hubungan mereka.
Aktivitas seperti berkumpul dengan teman dan menghabiskan waktu bersama keluarga dianggap lebih bermakna dibandingkan dengan sekadar memperbarui status atau mendapat 'like' di media sosial. Ini mencerminkan lemahnya interaksi sosial yang dihasilkan dari penggunaan berlebihan.
Ferdy, seorang mahasiswa, menegaskan, "Saya lebih suka pergi ke kafe dan ngobrol langsung dengan teman. Itu jauh lebih seru dibandingkan chatting di grup."
Baca juga: Fenomena Film KPop Demon Hunters di Netflix
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: