Jumat, 02 JANUARI 2026 • 11:28 WIB

Risiko Kanker Usus Meningkat pada Pelari Marathon, Studi Menyatakan

Author

Risiko Kanker Usus Meningkat pada Pelari Marathon, Studi Menyatakan

Sebuah studi yang dipresentasikan di American Society of Clinical Oncology (ASCO) pada tahun 2025 mengejutkan banyak pihak dengan menemukan bahwa pelari marathon berisiko lebih tinggi mengalami advanced adenomas, sejenis polip usus yang berpotensi menjadi kanker.

Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Dengan Kecerdasan Buatan

Dengan analisis kolonoskopi terhadap 100 pelari berusia 35 hingga 50 tahun, hasilnya menunjukkan hampir 50% partisipan memiliki polip, dan 15% di antaranya teridentifikasi memiliki kondisi lanjut tersebut.

Temuan Penelitian Mengenai Pelari Marathon

Penelitian ini mencatat tingkat prevalensi advanced adenomas di kalangan pelari marathon mencapai 15%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan populasi usia 40-49 tahun yang hanya berkisar antara 1,2% hingga 6%.

Dr. Timothy L. Cannon, seorang onkolog dari Inova Schar Cancer Institute, mengatakan, 'Setelah bertemu tiga atlet ekstrem dengan kanker usus besar stadium IV sebelum usia 40 tahun, saya mulai curiga ada kaitannya.'

Baca juga: Patung Superhero Anggota DPR RI Dirusak, Ahmad Sahroni Cerita di Balik Koleksinya

Salah satu temuan menarik dari studi ini adalah tingginya insiden perdarahan rektal. Sekitar 30% partisipan melaporkan mengalami perdarahan ini, khususnya mereka dengan advanced adenomas, yang mencatat 53% dibandingkan 22% pada mereka yang tidak memiliki lesi berbahaya.

Faktor-Faktor Penyebab yang Diduga Berkontribusi

Para peneliti menduga bahwa saat berlari jarak jauh, aliran darah dialihkan ke otot kaki yang menyebabkan usus kekurangan suplai darah. Kondisi ini bisa memicu peradangan dan kerusakan sel, mempercepat regenerasi sel yang salah, serta meningkatkan risiko terjadinya mutasi.

Pola makan para pelari juga menjadi perhatian. Dr. Cannon menyoroti, 'Banyak pelari mengonsumsi bar dan gel ultra-proses, minum dari botol plastik jauh lebih sering, dan sepertiga peserta bahkan vegetarian atau vegan.'

Tantangan dalam Metodologi Penelitian

Professor gastroenterologi asal Indiana University, Dr. Thomas F. Imperiale, menyebutkan bahwa meski hasil ini menarik, terdapat keterbatasan dalam metodologi yang digunakan. Ia menekankan bahwa perbandingan prevalensi adenoma lanjut sebesar 1,2% didasarkan pada data kolonoskopi skrining dari 25 tahun yang lalu.

Dr. Hamed Khalili dari Harvard Medical School menambahkan bahwa studi lebih besar diperlukan untuk mendapatkan hasil yang lebih meyakinkan. 'Ukuran sampelnya kecil, jadi tidak jelas apakah perbedaan yang diamati hanyalah masalah pengambilan sampel,' ujarnya.

Baca juga: Tips Fengshui untuk Tidur yang Lebih Nyenyak di Kamar Tidur

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU