Jumat, 26 DESEMBER 2025 • 15:59 WIB

Mengapa Memprioritaskan Perasaan Orang Lain Dapat Mengabaikan Kesejahteraan Diri Sendiri?

Author

Mengapa Memprioritaskan Perasaan Orang Lain Dapat Mengabaikan Kesejahteraan Diri Sendiri?

Dalam interaksi sosial, sering muncul kecenderungan untuk menjaga perasaan orang lain di atas perasaan sendiri. Fenomena ini menjadi perbincangan hangat ketika menghadapi situasi emosional yang kompleks.

Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Apa yang Perlu Diketahui?

Di banyak budaya, termasuk di Indonesia, menempatkan orang lain di atas diri sendiri sering dianggap sebagai tindakan yang mulia. Namun, hal ini dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan mental individu.

Keterikatan Emosional dan Pengaruh Lingkungan

Salah satu alasan di balik fokus yang kuat terhadap perasaan orang lain adalah adanya keterikatan emosional. Ketika kita memiliki hubungan dekat, baik dengan keluarga, teman, atau pasangan, kita cenderung lebih peka terhadap perasaan mereka.

Norma sosial sering mendorong individu untuk 'mengutamakan' orang lain. Dalam konteks budaya Indonesia, menjaga keharmonisan dan hubungan baik di masyarakat sangat dijunjung tinggi.

Ketika berusaha melindungi perasaan orang lain, dorongan untuk bertindak dapat muncul. Di mana ungkapan 'jangan menyakiti hati orang lain' kerap terlintas dalam pikiran kita, mendorong kita untuk mengutamakan kesejahteraan orang lain.

Contoh yang konkret adalah ketika seorang teman mengalami kesedihan setelah putus cinta. Hal ini tidak hanya menyentuh perasaan simpati kita, tetapi juga memicu tindakan untuk menghibur mereka, meskipun kita sendiri mungkin sedang menghadapi masalah.

Motivasi Diri dan Ketidaknyamanan

Motivasi untuk menjaga perasaan orang lain sering kali terkait dengan perasaan ketidaknyamanan yang dialami saat berhadapan dengan emosi pribadi. Menghadapi permasalahan pribadi bisa menjadi tantangan yang berat.

Baca juga: Patung Superhero Anggota DPR RI Dirusak, Ahmad Sahroni Cerita di Balik Koleksinya

Akibatnya, fokus pada permasalahan orang lain memberikan 'rasa aman,' mengalihkan perhatian dari situasi sulit kita sendiri. Contohnya, ketika kita terlibat dalam pertengkaran dengan pasangan, kita cenderung berusaha menenangkan mereka alih-alih membahas perasaan kita yang terluka.

Banyak orang berpendapat bahwa menempatkan kebutuhan orang lain di depan dapat memberikan perasaan positif sesaat. Meskipun demikian, dalam jangka panjang, pendekatan ini bisa mengarah pada frustrasi dan rasa tidak terabaikan.

Penghindaran atas emosi pribadi melalui penempatan orang lain di depan sering kali menjadi pola perilaku yang sulit diubah.

Dampak Psikologis dan Kesehatan Mental

Pola berkelanjutan dalam menjaga perasaan orang lain berpotensi berpengaruh negatif terhadap kesehatan mental individu. Kecenderungan ini bisa memicu perasaan stres, kecemasan, dan bahkan depresi.

Ketika terlalu fokus pada kebutuhan orang lain, kita sering kali mengabaikan kebutuhan dasar diri sendiri. Sayangnya, kebiasaan ini menjadi sukar untuk diubah.

Berbagai profesional dalam bidang kesehatan mental sering merekomendasikan pencarian keseimbangan antara menjaga perasaan orang lain dan merawat diri sendiri. Seorang konselor psikologi menyatakan, "Kesejahteraan kita penting untuk bisa membantu orang lain."

Dengan memprioritaskan kesehatan mental, tidak hanya kita dapat merawat diri sendiri, tetapi juga dapat menjadi dukungan yang lebih efektif bagi orang-orang di sekitar kita.

Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word dan Aplikasi Lain

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU