Rabu, 19 NOVEMBER 2025 • 16:41 WIB

Hubungan Memelihara Kucing dan Risiko Skizofrenia: Apa Kata Penelitian?

Author

Hubungan Memelihara Kucing dan Risiko Skizofrenia: Apa Kata Penelitian?

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa memelihara kucing dapat berhubungan dengan peningkatan risiko skizofrenia. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Mental Queensland ini dianalisis dari 17 studi selama 44 tahun.

Baca juga: Kementerian Perindustrian Ungkap Status Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Dipimpin oleh Psikiater John McGrath, hasil penelitian ini menunjukkan berbagai perspektif mendalam terkait dampak kepemilikan kucing, yang dipublikasikan dalam jurnal Schizophrenia Bulletin pada tahun 2024.

Gagasan Awal dan Penelitian Terkait

Konsep bahwa kepemilikan kucing dapat meningkatkan risiko skizofrenia mulai muncul dalam sebuah penelitian tahun 1995, yang menyebutkan parasit Toxoplasma gondii sebagai penyebab potensial. Terlepas dari itu, studi-studi lanjutan memiliki hasil yang beragam, seperti penelitian Cureus pada tahun 2022, yang menyatakan bahwa interaksi dengan kucing di masa kanak-kanak dapat meningkatkan risiko gangguan tersebut.

Namun, penelitian dari jurnal Plos One pada tahun 2019 menemukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara memelihara kucing dan risiko skizofrenia. Variasi hasil ini menunjukkan kompleksitas dalam memahami hubungan antara kepemilikan kucing dan kesehatan mental.

Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Dengan Kecerdasan Buatan

Dampak Toxoplasma Gondii

Toxoplasma gondii adalah parasit yang bisa ditularkan melalui daging kurang matang atau feses kucing yang terinfeksi. Menurut estimasi, parasit ini dapat menginfeksi sekitar 40 juta orang di Amerika Serikat.

Setelah terinfeksi, T. gondii dapat memengaruhi neurotransmiter dalam sistem saraf pusat. Ini dihubungkan dengan perubahan kepribadian dan gejala psikotik, termasuk skizofrenia, meskipun belum ada bukti bahwa parasit ini secara langsung menyebabkan perubahan tersebut.

Kualitas Penelitian dan Variabilitas Hasil

Dari 17 penelitian yang dianalisis, sebagian besar (15 studi) merupakan studi kasus-kontrol. Jenis studi ini tidak dapat menunjukkan sebab-akibat secara langsung dan sering kali tidak mempertimbangkan faktor lain yang relevan dalam analisis.

Kualitas penelitian yang bervariasi mempengaruhi konsistensi hasil. Misalnya, jurnal Plos One tahun 2019 menunjukkan hubungan signifikan hanya pada anak-anak berusia 9 hingga 12 tahun, sedangkan penelitian dari Schizophrenia Research tahun 2013 tidak menemukan hubungan sama sekali antara kepemilikan kucing dan skor skizotipi, meskipun individu yang pernah digigit kucing menunjukkan skor lebih tinggi.

Baca juga: Pentingnya Olahraga untuk Kesehatan Jantung

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU