Risiko Hipoglikemia Selama Bulan Puasa yang Perlu Diketahui
Puasa merupakan salah satu ibadah fundamental dalam agama Islam, namun dapat meningkatkan risiko kesehatan, salah satunya adalah hipoglikemia.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Cara Praktis Meningkatkan Kebugaran di Rumah
Kondisi ini ditandai dengan penurunan kadar gula darah yang drastis dan penting untuk mengenali tanda-tandanya agar tindakan tepat dapat diambil.
Hipoglikemia mengacu pada kondisi di mana kadar glukosa dalam darah turun di bawah 70 mg/dL. Faktor pemicu hipoglikemia bervariasi, dari pola makan yang tidak teratur hingga penggunaan obat-obatan tertentu.
Selama bulan puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman, menjadikan risiko hipoglikemia semakin tinggi. Oleh karena itu, individu dengan riwayat diabetes atau masalah metabolik perlu lebih waspada.
Baca juga: Aksi Pria Berkostum Ojol di Atas Kereta KRL Cikini Viral di Media Sosial
Gejala hipoglikemia dapat bervariasi, tetapi umumnya meliputi rasa lemah, keringat dingin, serta pening. Tanda-tanda lain termasuk detak jantung yang cepat dan rasa bingung.
Jika gejala ini diabaikan, kondisi dapat memburuk dan berisiko mengakibatkan kehilangan kesadaran. Oleh sebab itu, perhatian terhadap tanda-tanda ini sangat penting, terutama menjelang waktu berbuka.
Jika seseorang mengalami gejala hipoglikemia ketika berpuasa, langkah pertama adalah mengonsumsi sesuatu yang mengandung gula dengan segera. Gula cair seperti jus buah bisa dijadikan pilihan yang efektif.
Setelah berbuka, penting untuk menghindari makanan yang berat dan memilih makanan seimbang guna menstabilkan kadar gula. Konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan jika gejala tidak kunjung membaik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: