Mengelola Kebiasaan Sehari-Hari untuk Kesehatan Jantung yang Lebih Baik
Kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele dapat berkontribusi pada peningkatan risiko gangguan jantung pada individu. Hal ini khususnya berkaitan dengan kondisi aritmia yang dikenal sebagai Atrial fibrilasi.
Baca juga: Kementerian Perindustrian Ungkap Status Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Dokter spesialis jantung mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup yang signifikan sangat diperlukan untuk meminimalisir risiko ini, terutama di kalangan masyarakat Indonesia yang semakin mengadopsi gaya hidup modern.
Atrial fibrilasi merupakan salah satu jenis aritmia yang paling umum dan dapat memengaruhi fungsi jantung secara keseluruhan. Menurut dokter spesialis jantung di Eka Hospital, Ignatius Yansen, gangguan ini menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur.
Di dalam kondisi normal, jantung memiliki sistem kelistrikan alami yang menjaga detak jantung tetap stabil. Berbagai faktor gaya hidup seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas dapat mengganggu sistem ini dan meningkatkan risiko terjadinya atrial fibrilasi.
Ignatius juga menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, risiko terjadinya kondisi ini meningkat pesat. Pada individu yang berusia di atas 80 tahun, angka kejadian atrial fibrilasi dapat mencapai sekitar 15 hingga 20 persen.
Baca juga: Makanan Kaya Vitamin C untuk Tingkatkan Daya Tahan Tubuh
Penanganan atrial fibrilasi tidak hanya tergantung pada pengobatan medis tetapi juga pada pendekatan manajemen risiko yang komprehensif. Penting bagi pasien dengan diabetes untuk menjaga kadar gula darah mereka tetap stabil.
Bagi penderita hipertensi, disiplin dalam mengendalikan tekanan darah sangat dianjurkan. Sedangkan mereka yang mengalami obesitas disarankan untuk menurunkan berat badan secara bertahap.
Gangguan tidur, seperti sleep apnea, juga merupakan hal yang perlu diperhatikan dan memerlukan penanganan khusus. Ignatius menekankan bahwa, 'Tata laksana pertama dari atrial fibrilasi adalah kita harus menangani faktor risikonya.'
Salah satu tantangan terbesar dari gangguan irama jantung adalah sering kali gejalanya tidak terlihat jelas. Tanda-tanda seperti detak jantung yang cepat, mudah lelah, atau sesak napas saat beraktivitas sering diabaikan.
Namun, jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa mengarah pada komplikasi serius seperti stroke dan gagal jantung. Untuk itu, perubahan gaya hidup menjadi sangat krusial dalam mencegah risiko ini.
Ignatius menegaskan, 'Mengurangi konsumsi alkohol, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta mengontrol tekanan darah dan gula darah bukan sekadar saran umum melainkan langkah nyata untuk melindungi 'baterai' alami jantung.'
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: