Dua Metode Berbeda Tentukan Awal Ramadhan 2026 di Indonesia
Awal Ramadhan 1447 Hijriah atau puasa tahun 2026 berpeluang tidak serentak di Indonesia akibat metode penentuan yang berbeda antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Baca juga: Peluncuran Smartphone Terbaru Realme dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone
Perbedaan ini muncul dari pendekatan yang digunakan untuk menentukan awal bulan, menyusul perhitungan yang dilakukan oleh masing-masing organisasi.
Hingga saat ini, Nahdlatul Ulama (NU) belum memberikan pengumuman resmi mengenai tanggal 1 Ramadhan 2026. NU mengikuti keputusan pemerintah dalam menetapkan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadhan.
Berdasar keputusan Muktamar ke-20 tahun 1954, NU menggunakan mekanisme ikhbar, yang berarti mereka mengikuti dan menyampaikan keputusan pemerintah kepada masyarakat.
Lembaga Falakiyah PBNU telah melakukan perhitungan menggunakan metode hisab jama’i. Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa ijtimak terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 19.02 WIB dengan tinggi hilal mencapai minus 1 derajat 44 menit.
Oleh karena itu, bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadhan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Baca juga: Fengshui Meja Kerja: Cara Sederhana Meningkatkan Produktivitas
Berbeda dengan Nahdlatul Ulama, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih awal menetapkan awal Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini dilakukan berdasarkan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Sistem KHGT dibangun di atas prinsip kesatuan hari dan tanggal secara global. Penentuan bulan baru dilakukan dengan menggunakan parameter hisab, yang mensyaratkan elongasi minimal 8 derajat dan ketinggian hilal minimal 5 derajat saat matahari terbenam.
Berdasarkan perhitungan yang mereka lakukan, konjungsi terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 12.01 GMT. Dengan parameter tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026.
Perbedaan awal puasa yang mungkin terjadi di 2026 dipengaruhi oleh pendekatan metodologis yang berbeda antara kedua organisasi. NU mengombinasikan metode hisab dan rukyat serta mengikuti keputusan pemerintah melalui sidang isbat.
Sebaliknya, Muhammadiyah menerapkan hisab murni yang berbasis kalender global yang telah ditentukan sebelumnya. Walaupun kedua pendekatan mengandalkan perhitungan astronomi, mereka memiliki kerangka fikih dan metodologi yang berbeda.
Keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat pada 17 Februari 2026 akan menjadi rujukan nasional untuk penentuan awal puasa. Sementara itu, Muhammadiyah sudah menetapkan puasa dimulai pada 18 Februari 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: