Menggali Psikologi Kebencian Anak Terhadap Ibu Kandung
Fenomena kebencian anak terhadap ibu kandung merupakan isu kompleks yang sering terjadi dalam hubungan keluarga, terutama pada masa remaja.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Cara Praktis Meningkatkan Kebugaran di Rumah
Di tengah kasih sayang yang biasanya terjalin, ada kalanya anak mengalami perasaan dikhianati atau tidak dipahami, memicu emosi negatif yang mendalam.
Peran ibu dalam kehidupan anak sangat signifikan, tetapi sering kali terdapat ekspektasi yang tidak realistis terhadap figur ini.
Sabrina Romanoff, PsyD, seorang psikolog klinis, menyatakan bahwa 'seseorang umumnya menyimpan rasa benci terhadap ibunya saat pernah diperlakukan tidak adil, diabaikan, atau disakiti.'
Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, kemarahan anak mulai tumbuh, menciptakan dinamika yang rumit antara kasih sayang dan kebencian.
Emosi campur aduk ini menjadi bagian dari hubungan yang sering kali penuh tantangan dan perlu perhatian.
Sikap tidak konsisten dari orang tua telah teridentifikasi sebagai pemicu rasa benci. Anak yang dibesarkan oleh ibu yang sering berubah pikiran cenderung merasa tidak bisa mengandalkan sosok tersebut.
Baca juga: Fengshui Meja Kerja: Cara Sederhana Meningkatkan Produktivitas
Pandangan ini didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa pola asuh yang tidak stabil dapat menimbulkan rasa cemas berlarut-larut.
Ketidakpastian ini sering kali menciptakan perasaan tidak diterima dan tidak dicintai, yang mendasari emosi negatif yang berkepanjangan.
Akibatnya, anak menjadi lebih rentan terhadap perasaan marah dan frustasi yang dirasakan terhadap orang tua.
Komunikasi berperan penting dalam hubungan ibu dan anak. Kritik yang berlebihan dan tuntutan yang tinggi dari pihak ibu dapat menciptakan tekanan pada anak.
'Rasa dendam yang menumpuk sering berasal dari kemarahan yang belum terselesaikan atas pengabaian serta trauma yang terjadi selama masa kanak-kanak,' jelas salah satu ahli.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: