Pemulihan Layanan Kesehatan di Aceh Pasca Bencana Alam
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan perbaikan rumah sakit di Aceh sebagai prioritas utama setelah bencana alam yang melanda daerah tersebut.
Baca juga: Kementerian Perindustrian Ungkap Status Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Saat ini, terdapat enam rumah sakit di Aceh yang belum beroperasi penuh, dengan Aceh Tamiang sebagai wilayah paling terdampak.
Dalam kunjungannya, Menteri Kesehatan mengungkapkan bahwa ada 18 rumah sakit di Aceh yang terpengaruh bencana alam, dan langkah awal adalah menghidupkan kembali operasional rumah sakit tersebut.
Khususnya di Aceh Tamiang, penerapan kembali layanan kesehatan menjadi sangat krusial setelah melihat adanya pasien yang membutuhkan penanganan segera. Menkes menekankan pentingnya merespons kebutuhan krusial bagi pasien yang memerlukan cuci darah, di mana penanganan yang lambat dapat berakibat fatal.
"Tapi yang masih sangat ketinggalan itu yang di Aceh Tamiang. Nah, itu diharapkan mulai besok instalasi gawat darurat (IGD)-nya sudah bergerak," kata Menkes.
Setiap langkah pemulihan akan diatur secara progresif, dimulai dari restorasi IGD, dilanjutkan ke ruang operasi, dan perawatan spesifik untuk pasien cuci darah.
Menteri Kesehatan juga menyebutkan penempatan 300 dokter internship sebagai bagian dari upaya mempercepat pemulihan layanan kesehatan di Provinsi Aceh.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Era Modern: Tips untuk Generasi Muda
Banyak daerah masih mengalami kendala akses, menyulitkan pelayanan medis dan distribusi kebutuhan obat-obatan. Ketersediaan dokter dan alat kesehatan di puskesmas menjadi prioritas tinggi, terutama di lokasi yang dekat dengan pusat-pusat pengungsian.
"Kebutuhan dokter-dokter itu, terutama di puskesmas-puskesmas yang dekat dengan pusat-pusat pengungsian, dipastikan harus ada," ungkapnya.
Laporan dari Kementerian Pertahanan menunjukkan adanya meningkatnya kasus penyakit yang perlu segera ditangani, seperti penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan akut.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sekitar 300 puskesmas mengalami kerusakan akibat bencana, dengan 50 puskesmas masih belum dapat diakses.
Akses ini menjadi tantangan besar dalam memasukkan bantuan medis dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan di lapangan. Menkes berupaya agar wilayah-wilayah terisolasi dapat segera terhubung dengan akses jalan agar kebutuhan medis dapat terpenuhi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: