Waspada! Tanda-Tanda Penuaan Otak yang Harus Diketahui
Seiring bertambahnya usia, penuaan tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga fungsi kognitif kita. Tanda-tanda peringatan dini bisa jadi menunjukkan bahwa otak mengalami penuaan lebih cepat dari yang seharusnya.
Baca juga: Kunto Aji Bicara Tanggung Jawab Anggota Dewan di DPR
Menurut Dr. Vassily Eliopoulos, pakar umur panjang dan kesehatan otak, banyak tanda tersebut sering diabaikan dan dianggap remeh sebagai efek stres atau kelelahan sehari-hari.
Salah satu indikasi awal dari penurunan fungsi kognitif adalah rasa lelah yang berlebihan saat berbincang meskipun hanya obrolan sederhana. Dr. Vassily menjelaskan bahwa otak yang sehat seharusnya merasa terstimulasi positif dari interaksi sosial, bukan sebaliknya.
Ketika neuron beroperasi dalam 'overdrive' atau ada peradangan, bahkan percakapan ringan bisa menjadi melelahkan. Ini menunjukkan bahwa metabolisme energi otak mungkin melambat akibat kurang tidur, stres, atau kekurangan nutrisi.
Lupa kata-kata yang ingin diucapkan juga menjadi sinyal peringatan. "Ini merupakan 'celah pengambilan', di mana informasi ada, tetapi jalur saraf untuk mengingatnya lemah," ungkap Dr. Vassily mengenai berkurangnya aktivitas neurotransmiter penting dalam pembelajaran dan ingatan.
Baca juga: Peluncuran Denza D9: MPV Mewah dengan Penawaran Harga Menarik
Salah satu tanda lain yang penting adalah peningkatan iritabilitas tanpa sebab yang jelas. Kenaikan hormon stres seperti kortisol yang berkepanjangan bisa mengganggu pusat pengaturan emosi di otak.
Dr. Vassily mencatat bahwa peningkatan sensitivitas terhadap kemarahan dan frustrasi dapat mempercepat penuaan otak. 'Tidak jarang, seseorang merasa lelah meski sudah tidur cukup,' katanya, yang menunjukkan bahwa otak tidak dapat beristirahat dengan baik.
Tidur yang tidak cukup efisien dapat menyebabkan penumpukan plak amiloid di otak, berkaitan dengan penyakit Alzheimer yang perlu diwaspadai secara serius.
Perubahan sensitivitas terhadap kebisingan dan cahaya juga dapat menjadi petunjuk yang signifikan. Jika sistem saraf menjadi hiperreaktif, ini menandakan bahwa filter sensorik di otak menurun, sering terjadi pada individu dengan stres kronis.
Kurangnya kejelasan mental setelah makan dapat berhubungan dengan fluktuasi glukosa dan peradangan antara usus dan otak. Dr. Vassily memperingatkan bahwa makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan dapat memperlambat performa mental melalui lonjakan insulin.
Terakhir, bingung di lingkungan yang dikenal juga merupakan sinyal peringatan. Hal ini terjadi ketika hipokampus menyusut akibat stres atau kurangnya latihan mental, memengaruhi kemampuan kita untuk navigasi dan mengingat.
Baca juga: Aksi Pria Berkostum Ojol di Atas Kereta KRL Cikini Viral di Media Sosial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: