Senin, 03 NOVEMBER 2025 • 11:41 WIB

Kritik Tajam Terhadap Pandji Pragiwaksono: Budaya Toraja dalam Sorotan

Author

Kritik Tajam Terhadap Pandji Pragiwaksono: Budaya Toraja dalam Sorotan

Komika Pandji Pragiwaksono menghadapi reaksi negatif setelah menyentuh budaya Toraja dalam penampilannya baru-baru ini di stand-up comedy.

Baca juga: Menggali Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional

Masyarakat Toraja meminta permintaan maaf terkait pernyataan yang dianggap menyinggung adat dan tradisi setempat.

Kritik dari Masyarakat Toraja

Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) Makassar, Amson Padolo, mengungkapkan kekecewaannya terhadap materi humor Pandji. 'Kami sangat menyayangkan seorang tokoh publik berpendidikan seperti Pandji menjadikan adat Toraja sebagai bahan lelucon,' ujarnya.

Kritikan ini berakar dari pandangan Pandji yang menyatakan bahwa masyarakat Toraja jatuh miskin karena dampak pesta adat. Hal ini membuat masyarakat merasa tertekan dan melukai hati mereka.

Amson menambahkan, 'Ada dua hal yang membuat kami terluka.' Pertama, klaim mengenai kemiskinan yang disebabkan oleh tradisi, dan kedua adalah kesalahan informasi tentang persembahan jenazah yang dianggap sangat menyinggung.

Baca juga: Tips Fengshui untuk Tidur yang Lebih Nyenyak di Kamar Tidur

Pemahaman tentang Tradisi Rambu Solo

Masyarakat Toraja memandang Rambu Solo sebagai lebih dari sekadar pesta kemewahan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan yang dalam. Amson menjelaskan bahwa prosesi ini menggambarkan nilai-nilai kekerabatan, gotong royong, dan kasih sayang.

'Esensi Rambu Solo itu penghormatan kepada orang tua atau kerabat yang telah meninggal,' jelasnya. Upacara ini juga merupakan hasil akulturasi antara ajaran Aluk Todolo dan ajaran Kristen yang dipegang masyarakat Toraja.

Melalui prosesi ini, masyarakat Toraja ingin mengingatkan bahwa budaya tidak hanya berbicara tentang tradisi semata, tetapi juga tentang rasa hormat terhadap sejarah dan orang-orang yang telah pergi.

Tuntutan Permintaan Maaf dan Tanggung Jawab Moral

Amson juga menggarisbawahi pentingnya memahami konteks budaya sebelum melontarkan candaan yang berpotensi melukai perasaan. Ia menekankan bahwa tokoh publik memiliki tanggung jawab moral dalam cara mereka berbicara mengenai budaya masyarakat lain.

'Kami menuntut Pandji meminta maaf secara terbuka,' tegasnya. Ini bukan sekadar mengenai satu suku, tetapi pelajaran berharga agar semua pihak lebih hati-hati dan menghargai kultur yang berbeda.

Kritik ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi banyak tokoh publik lainnya, untuk lebih sensitif dalam memperlakukan budaya orang lain, bahkan dalam konteks humor.

Baca juga: Menikmati Keindahan Sunset di Berbagai Lokasi Indah di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU